Selayang Pandang

Tanggal 1 Agustus 2014 yang lalu SMP 1 Bantul genap berusia 59 tahun. Bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-59 , SMP 1 Bantul telah memliki 13 kepala sekolah : Kepala Sekolah yang telah memimpin dan mengembangkan SMP 1 Bantul adalah :

  1. R. Murdani Hadiatmojo, tahun 1955 – 1965
  2. Suwondo Dwiatmojo, tahun 1964 – 1970
  3. Soegiarno, B.A, tahun 1970 – 1978
  4. Drs. Suyadi, 1978 – 1982
  5. Drs. Muh Iswandi Wirjodihadjo, tahun 1982 – 1988
  6. Suwandi, B.Sc, tahun 1988 – 1990
  7. R. Soepangat Hadi, tahun 1993 – 1995
  8. Tukidjo, B.A, tahun 1995 – 1999
  9. Ngadiman, tahun 1999 – 2001
  10. Drs. H. Supriyanto, tahun 2001 – 2007
  11. H. Bambang Edy Sulistiyana, M.Pd. tahun 2007 – 2013
  12. Dra. Denok Widarti, S.Pd., M.A tahun 2013 – 2014
  13. H. Yasmuri, S.Pd., M.PdI. tahun 2014 – sekarang

Sebagaimana yang sudah disampaikan dalam kata sambutan di depan, bahwa usia 59 tahun adalah saat kematangan manusia. Usia 59 tahun bagi sebuah lembaga adalah usia dewasa, usia matang untuk menghadapi masa depan yang penuh persaingan. Demikian halnya SMP 1 Bantul, sekolah menengah tertua di Bantul memasuki hari jadinya ke -59 ini ibaratnya “Tua-tua keladi, makin tua makin jadi” Demikianlah SMP 1 Bantul, makin tua makin berkembang. Mengapa tidak?

Tersirat dalam kesan dan pesan yang disampaikan Kepala Sekolah SMP 1 Bantul, “Belajar, bekerja, dan segala aktivitas diniatkan untuk ibadah. Berpikir kreatif ubah tantangan menjadi peluang.” Faktualitas kesan dan pesan memasuki usia 59 tahun ini SMP 1 Bantul menerima lima Surat Keputusan (SK) dari Dirjend Dikdasmen Depdikbud tentang, (1) Perluasan Sasaran Pelaksanaan Terbatas KBK (Kurikulum 2004) (2) Penetapan SLTP Piloting KBK, (3) Pelaksanaan Terbatas Pembelajaran MIPA Berbahasa Inggris SMP Koalisi Nasional, (4) Penetapan SMP Standar Nasional (SSN).

Dengan diterimanya SK Dikdasmen Nomor : 311 a/C.C 3 /Kep/PP/2004. Tanggal 2 Juli 2004, SMP 1 Bantul mewakili Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terpilih sebagai Sekolah Koalisi Nasional bersama 28 SMP lainnya yang ada di setiap propinsi di seluruh Indonesia. Sasaran pelaksanaan Sekolah Koalisi ini adalah sekolah-sekolah terpilih yang ada di 30 propinsi di Indonesia.

Konon munculnya program Sekolah Koalisi dilatar belakangi oleh upaya peningkatan kualitas (quality) pendidikan dan persamaan perlakuan (equity) kepada semua anak usia wajib belajar dalam memperoleh akses pendidikan merupakan issue yang paling menonjol dalam pertemua 37 tahun SEAMEO Cuoncil Conference di Chiang Mai tanggal 11 Maret 2002. Pada pertemuan tersebut dihasilkan “Declaration on Quality and Equity in Education in Southeast Asia .

Sebagai tindak lanjut pertemuan SEAMEO Cuoncil tersebut, dalam Special Higg Official Meeting di Thailand tanggal 29 – 31 Mei 2002 telah disepakati 3 hal : (1) mempertajam proram pendidikan yang menjawab quality dan equity, (2) pembentukan task forse dengan perwakilan dari setiap negara anggota,, dan (3) menyiapkan sasaran dan program pendidikan yang menjawab quality dan equity melalui sekoalah koalisi.

Sekolah koalisi di Indonesia yang mulai dipersiapkan tahun 2002-2003 terdiri atas sekolah Koalisi Regional dan Sekolah Koalisi Nasional. Ada dua SD dan Dua SMP yang masuk Sekolah Koalisi Regional, SDN 01 Menteng Jakarta dan SD 1 PB Sudirman, untuk tingkat SMP, SMP N 19 Jakarta dan SMP Al-Azhar Jakarta. Sekolah Koalisi Nasioanal untuk tingkat SD belaum ada. Untuk tingkat SMP setiap provinsi hanya dipilih satu SMP yang masuk program Sekolah Koalisi. SMP 1 Bantul terpilih sebagai Sekolah Koalisi wakil Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hingga kini di seluruh Indonesia ada 29 sekolah koalas, salah satu diantarnya adalah SMP 1 Bantul.

Pengertian Sekolah Koalisi kiranya belum banyak dikenal oleh masyarakat luas . Sekolah Koalisi adalah sekolah yang memiliki visi dan misi serta tujuan yang jelas, menjadi model bagi sekolah di sekitarnya, etos sekolah yang baik, manajemen sekolah yang baik, harapan guru yang tinggi, guru sebagai contoh teladan yang positif, memberi perlkuan yang sama pada siswa, membagi aktivitas guru dan staf, guru-guru mempunyai komitmen yang kuat, dan didukung oleh guru-guru dengan kepemimpinan yang kuat dari kepala sekolah.

Kepala Sekolah Koalisi memberikan perhatian yang tinggi terhadap perbaikan mutu pelajaran, memberikan penghargaan yang tinggi untuk mendukung pencapaian prestasi siswa, menciptakan atmosfer sekolah yang tidak kaku, sejuk tanpa tekanan dan kondusif dalam seluruh proses pengajaran maksimal dan kemajuan murid yang dimonetor secara periodik.

Sekolah Koalisi menjadi model pelaksanaan bagi sekolah di sekitarnya di tingkat kabupaten atau kota, nasional, dan internasional. Identifikasi sekolah Koalisi adalah sekolah yang berpotensi untuk berkembang. Sekolah Koalisi memiliki criteria tertentu yang telah digariskan oleh Depdiknas sebagai berikut :

  • Sekolah negeri atau swasta memiliki rombongan belajar lebih dari 6 rombongan belajar, memiliki lahan yang cukup untuk pengembangan.
  • Sekolah negeri atau swasta memiliki guru dengan kualifikasi S1 per mata pelajaran dan terlatih, berkualifikasi, berkompeten, dan berkomitmen dalam bertugas.
  • Sekolah negeri atau swasta memiliki jumlah siswa per kelas tidak lebih dari 40 siswa.
  • Sekolah negeri atau swasta memiliki ruang yang memadai dan sedang melaksanakan inovasi pendidikan (life skill, MBK, MPMBS, dan sebagainya).
  • Sekolah negeri atau swasta memiliki Dewan Sekolah atau Komite Sekolah dan partisipasi masyarakat yang besar.
  • Sekolah negeri atau swasta memiliki prestasi akademik nonakademik yang cenderung meningkat, memanfaatkan computer kegiatan administrasi, siswa aktif dalam kegiatan belajar dan kesiswaan, guru aktif dalam kegiatan MGMP, kepala sekolah aktif dalam kegiatan MKKS dan menunjukkan kepemimpinan yang kuat serta efektif.
  • Sekolah negeri atau swasta memiliki fasilitas information, communication (ICT), terbuka untuk semua golongan, memberikan kesempatan yang sama, melaksanakan kebijaksanaan pemerintah yang terkait dengan quality and equality melalui pendekatan 5 komponen = School Based Management, Learning Enviroment, Teachers Competencies and Rewarding System, Curruculum and Learning Material, Community Partisipation.

 

Selain sebagai Sekolah Koalisi, SMP 1 Bantul juga terpilih sebagai Sekolah Standar Nasional (SSN). Hali ini dinyatakan dalam Surat Keputusan Nomor : 1147 A/C 3 /SK/2004. Tanggal 5 Juli 2004, tentang Penetapan SMP Standart Nasional.

Sekolah Standar Nasional (SSN) pada dasarnya merupakan sekolah yang telah memenuhi Standar Nasioanal Pendidikan (SNP), yang berarti memenuhi tuntutan Standar Pelayanan Minimal (SPM) sehingga diharapkan mampu memberikan layanan pendidikan yang standard an menghasilkan lulusan dengan kompetensi sesuai dengan standar nasioanal yang ditetapkan. Dengan kata lain SSN telah mampu memberikan layanan pendidikan kepada anak didik, sesuai dengan standar minimal yang telah ditetapkan. Oleh karena itu SSN pada dasarnya dapat berfungsi sebagai sekolah model, artinya dapat dijadikan model bagaimana menyelenggarakan sekolah sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan secara nasional (DEpdiknas, 2004 : 3).

Dalam pengertian tersebut bias saja dalam satu kabupaten/kota terdapat leih darti satu SMP yang memenuhi kreteria sebagai SSN. Sebaliknya mungkin ada kabupaten/kota yang tidak memiliki sekolah yang memenuhi kreteria sebagai SSN. SMP 1 Bantul telah melaui tahapan seleksi akhirnya terpilih sebagai Sekolah Standar Nasional (SSN). Dengan terpilihnya SMP 1 Bantul sekolah yang pertama menyandang predikat Sekolah Standar Nasional di kabupaten Bantul.

Seperti yang disebutkan dalam Pedoman Pengembangan Sekolah Standar Nasional (SSN). Kreteria pemilihan sekolah calon SSN terdiri dari dua, yaitu kreteria umum dan kreteria khusus. Sekolah (SMP) negeri maupun swasta dapat diusulkan untuk menjadi calon SSN asal memenuhi empat kreteria umum, yaitu :

  • Memiliki rata-rata NEM tahun 2002 dan Nilai UAN tahun 2003 minimal 6,5.
  • Termasuk sekolah yang tergolong kategori baik di kabupaten/kota yang bersangkutan, yaitu memiliki tenaga guru dan sarana pendidikan yang cukup, serta memiliki prestasi yang baik
  • Sekolah memiliki potensi kuat untuk berkembang.
  • Bukan sekolah yang didukung oleh yayasan yang memiliki pendanaan yang kuat, baik dari dalam maupun luart negeri.

Kreteria khusus Sekolah Standar Nasional (SSN) merupan aspek-aspek yang terkait dengan proses perkembangan sekolah, mencakup 20 butir yaitu :

  • Sekolah memiliki kebijakan, tujuan dan sasaran mutu yang jelas.
  • Sekolah memiliki sumberdaya manusia yang kompeten dan berdedikasi tinggi.
  • Sekolah memiliki fasilitas (sarana prasarana) yang memadai.
  • Sekolah memiliki kepedulian pada kualitas pembelajaran.
  • Sekolah menerapkan evaluasi secara berkelanjutan.
  • Kegiatan ekstra kurikuler (olah raga, kesenia, LKIR dll) menunjukkan peningkatan.
  • Manajemen di sekoalh termasuk manajemen yang bagus.
  • Sekolah memiliki kepemimpinan yang handal
  • Sekolah memiliki program-program yang inovatif

(10). Program sekoalh jelas dan sesuai dengan kondisi obyektif sekolah

(11). Program sekolah dibuat dengan melibatkan seluruh warga sekolah.

(12). Administrasi keuangan sekolah transparan.

(13). Kerjasama dan hubungan antar warga sekolah berjalan harmois.

(14). Kerjasama sekolah dengan masyarakat sekitar berjalan dengan baik

(15). Ruang kelas, lab, kantor, dan kamar mandi/WC dan taman sekolah bersih dan terawat.

(16). Lingkungan sekolah bersih, tertib, rindang dan aman.

(17). Guru dan tenaga kependidikan di sekolah tampak antusias dalam mengajar dan bekerja.

(18). Hasil UAN siswa menunjukkan kecenderungan meningkat.

(19). Sekolah menerapkan reward system dan merit system secara baik.

(20). Sekolah memiliki program peningkatan kinerja professional guru dan tenaga kependidikan lainnya.

Dua puluh butir kreteria di atas diterapkan kepada SMP calon SSN yang lolos seleksi tahap I, yaitu SMP yang lolos kreteria umum. Penilaian dengan kreteria khusus itu dilakukan dengan mengunjungi sekolah. Selanjutnya sekolah yang dikunjungi tersebut diwajibkan menyusun profil sekolah serta Rencana dan Program Pengembangan Sekolah (RPPS) sebagai persyaratan untuk penilaian berikutnya. Di kabupaten Bantul ada tiga SMP yang diikutsertakan seleksi calon SSN putaran I dan SMP 1 Bantul lolos yang pertama kali. Sehingga sejak tanggal 5 Juli 2004 SMP 1 Bantul ditetapkan sebagai SSN. Sebagai Sekolah Koalisi dan Sekolah Standar Nasional (SSN), SMP 1 Bantul mulai tahun pelajaran 2004/2005 ini dipercaya Pemerintah melalui Depdiknas untuk membuka kelas pembelajaran MIPA berbahasa Inggris, dan masih banyak lagi prestasi yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.

/p


 
© 2005 SMPN 1 Bantul
Jl. RA. Kartini No. 44 Bantul Yogyakarta
Design by yesjogja